SINOPSIS – Novel Hamidah

Novel ini mengisahkan kisah cinta seorang laki-laki dari keturunan bangsawan yang sangat menjunjung nasab dan keturunannya. Laki-laki itu bernama Nabil, dia seorang pemuda yang tinggal di Hadramaut. Nabil adalah pemuda yang tampan dan patuh kepada orang tuanya. Sejak kecil, jiwa Nabil telah terikat dengan masjid dan dia dibimbing oleh Syai'ikh Ahmad, seorang ustadz yang alim. Suara Nabil sangat merdu karena itu dia sering diminta untuk membaca Shalawat dan berjanji di masjid. Dan pada bulan Ramadhan dia selalu minta untuk membacakan doa-doa pada saat Khatmil Qur'an.

Suatu hari Qasim ayah Nabil mengajak Ibu Nabil dan Nabil pergi ke rumah sahabat ayah Nabil yang bernama Umar. Pada saat mereka bertemu ayah Nabil dan Umar berpelukan erat untuk melepaskan rindu karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Pak Umar mempersilahkan masuk keluarga Nabil untuk duduk di balai-balai ruang tamu. Saat itu pak Umar menyuruh putrinya yang bernama Hamidah untuk membuatkan empat cangkir kopi. Tak lama kemudian Hamidah keluar dari dalam rumah dengan membawa empat cangkir kopi. Saat itulah Nabil terpana melihat Hamidah akan kecantikannya. Hamidah pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Nabil. Setelah Nabil pulang dari rumah Hamidah, dia selalu teringat dan memikirkan hamidah.

Suatu hari Ayah Nabil menyuruh Nabil kerumah pak Umar untuk mengatakan bahwa kain Iran akan diantarkan dua atau tiga hari lagi. Kesempatan itu yang di tunggu-tunggu Nabil, karena sudah lama dia ingin bertemu kembali dengan Hamidah. Pagi-pagi Nabil sudah siap untuk kerumah pak Umar dengan berpakaian dan memakai wangi-wangian. Ayah Nabil bingung atas penampilan Nabil. Setelah itu Nabil bergegas pergi kerumah Hamidah.

Sesampainya disana Nabil mengucapkan salam berulang kali, tetapi tampaknya rumah Hamidah tidak ada orang. Nabil mencoba mengucapkan salam sekali lagi, kemudian pak Umar membukakan pintu dan menyuruh Nabil masuk ke balai-balai ruang tamu. Di dalam hati Nabil ingin bertemu Hamidah untuk membuat dua cangkir kopi. Setelah Pak Umar menyuruh Hamidah, dia keluar menemui Nabil. Nabil menyampaikan pesanan Ayahnya kepada Pak Umar. Hamidah keluar dengan membawa dua cangkir kopi. Setelah berbincang-bincang dengan Pak Umar, Nabil pulang.

Di rumah, Nabil berfikir bahwa dia ingin menyampaikan perasaannya pada Hamidah. Selain itu dia juga merasa senang karena dengan adanya hubungan kerjasama antara Ayah Nabil dan Pak Umar, maka dia sesering mungkin dapat bertemu dengan Hamidah.

Nabil pergi ke rumah Hamidah untuk bertemu dengan Pak Umar, tetapi di sana dia hanya bertemu dengan Hamidah saja, karena Pak Umar sedang pergi. Pada saat Nabil akan pulang, Hamidah menyuruh Nabil masuk kerumahnya dulu. Nabil menerima ajakan Hamidah, karena menurutnya ini merupakan kesempatan dia untuk mengatakan perasaannya. Pada saat dia ingin mengatakan perasaannyadia merasa ragu apakah Hamidah mempunyai perasaan yang sama dengannya. Dengan keberaniannya Nabil mengatakan perasaannya kepada Hamidah. Sementara itu Hamidah hanya diam karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Setelah beduk maghrib berbunyi Nabil mohon diri untuk pulang. Hamidah hanya mengangguk dengan bulir-bulir air mata masih ada dimatanya.

Setelah Nabil pulang Hamida masuk kekamarnya dengan menangis bahagia, karena yang selama ini dia khawatirkan, Nabil tidak mempunyai perasaan yang sama kepadanya. Tetapi sebaliknya Nabil mengungkapkan perasaannya kepada Hamidah.

Setelah Nabil mengungkapkan perasaannya hamper setiap hari dia kerumah Hamidah. Tapi para warga merasa curiga karena nabil sering menemui Hamidah. Kabar itu pun sampai ketelinga Pak Qosim (ayh Nabil). Tapi ayah Nabil tidak memperdulikannya, karena Nabil pergi kerumah Hamidah hanya untuk kerjasama dengan ayahnya Hamidah. Setelah Nabil mengetahui bahwa dia menjadi bahan pembicaraan warga tentang hubungannya dengan Hamidah dia memberanikan diri untuk berkata jujur kepada ayahnya bahwa dia telah menaruh hati pada seorang wanita yaitu Hamidah anak pak Umar. Pak Qosim tidak menyetujui hubungan Nabil dengan wanita yang kufunya lebih rendah dari mereka seperti Hamidah.

Nabil bingung karena ayahnya tidak merasa hubungannya dengan Hamidah. Beberapa hari setelah itu Nabil berfikir tidak ingin durhaka dan tidak ingin mengecewakan kekasihnya. Akhirnya ia mengambil jalan untuk merantau ke Arab atau ke Indonesia seperti yang dilakukan datuk-datuknya dan dia tidak memberitahukan tujuan itu kepada siapapun. Kemudian Nabilmenulis surat untukayahnya. Setelah Nabil pergi Qosim berkata yang menyinggung perasaan pak Umar. Pak Umar pulang dengan perasaan kecewa.

Nabil pergi ke Indonesia dengan menggunakan sampan, tetapi sampan tersebut diterjang ombak sehingga dia terapung di atas laut dan dia ditolong oleh kapal yang berlayar ke Indonesi. Dikapal Nabil bersahabat dengan Salin (koki dari kapal tersebut). Nabil bercerita banyak hal tentang kisah cintanya pada Hamidah yang tidak di setujui oleh orang tuanya.

Sesampai di Indonesia Nabil tidak bertemu dengan datuk-datuknya. Disana dia ditolong oleh Walid. Walid adalah orang miskin yang tinggal di Indramayu, dan memiliki sifat yang baik. Dia memperlakukan Nabil seperti anaknya sendiri.

Setelah beberapa hari Nabil tinggal di rumah Walid, anak dari Walid yang bernama Salamah jatuh cinta kepada Nabil. Walid mengetahui perasaan anaknya kepada Nabil, kemudian Salim datang ke Indramayu. Nabil menemui salim dan menitipkan surat kepadanya untuk Hamidah. Dengan senag hati salim membantu Nabil membawakan surat untuk Hamidah.

Beberapa hari kemudian Walid mengatakan perasaan anaknya kepada Nabil, bahwaSalamah mencintai Nabil dan menyuruh Nabil untuk menikah dengan Salamah Nabil pun setuju menikah dengan Salamah. Sementara itu di Hadramaut. Hamidah membaca surat Nabil yang dititipkan Salim. Kemudian Hamidah meminta ayahnya untuk menyusul Nabil ke Indonesia. Hamidah dan ayahnya menjual harta mereka untuk pergi ke Indonesia.

Setelah Nabil dan Salamah menikah, mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Suatu hari Nabil pergi ke Pelabuhan bersama temannya Fahmi, mereka pergi ke Pelabuhan untuk mengurus dagangan mereka. Pada saat diperjalanan Fahmi berkata pada Nabil mungkin ada saudara atau kenalan yang bias kita temuidi Pelabuhan Cirebon. Fahmi dan Nabil tiba di Pelabuhan, kapal dari Hadramaut (adan) dating. Beberapa saat berlalu Nabil dan Fahmi tidak menjupai orang yang mereka kenal, mereka kecewa dan sepakat untuk segera pergi dari pelabuhan. Didepan pelabuhan ketika hendak menunggu kereta kuda yang akan membawa pulang , Fahmi berlari kecil menyebrang jalan untuk melihat kegaduhan diseberang jalan.

Di tmpat kegaduhanFahmi melihat seorang laki-laki dan perempuan dari hadramaut yang sedang kebingungan. Kemudian Fahmi mengajaknya berbicara dan mengajak keduanya menyebrang jalan menuju ketempat Nabil menunggu kereta. Nabil disebrang jalan dengan kaget melihat Hamidah dan Ayahya berjalan dengan Fahmi. Didalam hatinya Nabil menyebut Allahu Akbar. Dia merasa terkejut melihat Hamidah dan Ayahnya di Indonesia. Dengan seketika Nabil pingsan. Setelah itu nabil dibawa kerunah oleh Fahmi dan ayah Hamidah.

Sementara Hamidah di dalam kamar membayangkan saat ayahnya berbincang-bincang dengan Nabil. Kemudian Hamidah melihat Ayahnya dating dengan wajah lelah. Setelah itu ayahnya mendekati Hamidah dan memeluknya dengan kasih sayang. Ayahnya menyerahkan surat kepada Hamidah yang dititipkan Nabil kepada Fahmi. Ayahnya bilang engkau dapat mengetahui duduk perkaranya setelah membaca surat itu. Lalu Hamidah segera mengambil surat itu, ia tidak sabar untuk mengetahui isi surat itu. Ia tidak sabar untuk mengetahui isi dari surat yang diberikan Nabil.

Surat dari Nabil berisi tentang permohonan maaf nabil kepada Hamidah karena tidak bias hidup bersama dengannya. Karena Nabil sudah menjadi suami Salamah. Tetapi rasa sayang Nabil masih utuh dan penuh hanya untuk Hamidah. Nabil berkata biarkan jasadku menjadi suami Salamah yang telah menolongku, namun jiwaku masih mencintaimu.

SINOPSIS - PRINCES ( KISAH TRAGIS PUTRI KERAJAAN ARAB )


SINOPSIS

Sebuah Novel yang harus di baca dalam keaadan tanpa beban, itulah yang kupikirkan saat membaca hingga tuntas. Dalam keadaan tertekan dengan urusan rumah tangga, karier atau anak-anak, maka novel ini bisa jadi merupakan tindakan pembenaran kita terhadap kenyataan bahwa wanita tetaplah sosok lemah secara hukum dan adat istiadat, sekuat dan sekaya apapun itu.

Novel setebal 380 halaman karya penulis wanita asal Amerika, Jean.P Sasson ini bercerita tentang bagaimana seorang wanita, berdarah bangsawan tepatnya bergaris kerajaan Arab Saudi, memandang kaum pria berdasarkan akumulatif pengalaman pahit hidupnya. Novel ini sangat eksistdan terasa sekali aura pemikiran fesimis pada tiap lembarnya.

Sultana adalah tokoh rekayasa untuk menutupi nama yang sebenarnya (novel ini ditulis dengan label kisah nyata). Cerita ini berawal dari masa kecil Sultana yang dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang mulia bernama Fadila.

Dalam sejarah bangsa Arab yang kelam hingga kini, wanita tidak ubahnyasebagai budak dan aib. Dari sudut pandang Sultana, pria-pria dari negara makmur dan kaya raya itu tak mampu memilah mana manusia berjenis kelamin wanita dan mana budak belian. Ibu, anak wanita, semua sama. Hanya wanita yang mampu melahirkan anak laki-laki penerus keturunan keluarga saja yang diagung-agungkan (padahal saat Rasulullah mendapati Aisya melahirkan anak wanita, beliau, raja segala raja, malahan bergembira hati).

Hal ini bermula pada masa kecil Sultana yang mati-matian merebut kasih sayang ayahnya, sang Pangeran keturunan Raja Abdul Aziz. Ayah Sultana hanya mencintai faruq, kakak laki-lakinya, yang diperlukan bak tuhan karena dipuja berlebihan. Sementara Sultana dan sembilan kakak perempuannya hanya bisa menatap iri pada perbedaan itu. Sultana berjiwa pemberontak dan penuh optimisme. Ibu mereka, meski tak pernah merestui kenakalan dan pemberontakan sultana, beliau juga tak pernah mengekang pikiran liar anaknya.

Sultana berani menentang ayahnya, meski beroleh tamparan di pipinya. Ia juga berani menentang Faruq, yang kemudian membuatnya di kurung dan kehilangan semua mainannya. Kekesalan sultana pada Faruq yang egois dan kejam akhirnya membuat sultana bertindak nekat, masuk ke kamar faruq dan memindahkan semua koleksi film porno dan majalah porno yang di label milik faruq kebawah tangga masjid ! Akibatnya faruq terkena masalah besar, nyaris di penjara dan hukum cambuk. Beruntung Faruq berasal dari keluarga raja, sehingga para muttawa atau penegak agama tidak mengenai sanksi berat kepada Faruq. Hanya hukuma wajib lapor lima kali sehari sesuai waktu sholat ke masjid.

Sudah Sultana berpengalaman buruk akan Ayahnya yang pilih kasih pada Faruq dan merendahkan saudara-saudara wanitanya, Sultana mendapati kenyataan bahwa kakanya yang tercantik, Sara harus menikah dengan pria berusia enam puluh dua tahun pilihan Ayahnya. Sementara sara belum genap delapan belas tahun. Pernikahan Sara sudah jelas tidak bahagia, sehingga Sara melakukan bunuh diri dengan memasukkan kepalanya ke dalam kmpor gas. Tapi akhirnya nyawa Sara tertolong. Tetapi perkawinannya tidak. Sara dicerai oleh suami tuanya, dan Sara kembali ke istana orang tuanya. Ketertindasan itu akan berlanjut waktu demi waktu yang akan datang.


 

Dalam perjalanan menghibur Sara, mereka merencanakan pergi ke Kairo, Venice, Florence, dan Roma. Hal yang sangat mudah dilakukan putri seorang raja dengan harta berlimpah. Nura, kakak Sultana yang lebih tua mengajak Sultana dan Sara untuk jalan-jalan. Mereka harus seperjalanan dengan Faruq yang menyebalkan dan beserta temannya, Hadi, yang terobsesi menjadi Muttawa. Di kairo, Sultana memergoki Faruq dan Hadi sedang memperkosa gadis kecil yang berumur tidak lebih dari delapan tahun! Sara jijik kepada kakaknya dan menganggap laki-laki adalah iblis, terutama Hadi dan Faruq yang selalu menghujat wanita seagai pelacur, namun selalu tidak dapat menahan diri untuk menikmati keindahan tubuh mereka.

Saat Ibu mereka wafat, Sultana semakin menderita. Sultana sangat sedih ketika ayahnya memutuskan untuk menikah kembali dengan anak berumur 15 tahun, sepupu Sultana. Sultana terpukul dan sempat membenci randa, ibu tirinya yang seumur dengannya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, ketika Randa pucat pasi ketika dibawa Ayahnya ke kamar pengantin., menyebabkan setiap gadis yang sudah menstruasi wajib menggunakan Abaya dan cadar.

Keharusan-keharusan gadis di arab, mengharuskan gadis yang sudah menstruasi harus menggunakan Abaya atau Cadar. Setelah wanita sudah menggunakan cadar, maka ancaman hiduppun dimulai. Mereka akan dinikahkan dengan laki-laki jahat, begis, haus sex, dan biasanya jauh lebih tua. Hal ini sangat menjijikkan, mengingat di belahan dunia lain masih banyak wanita lain yang dapat memilih calon suaminya sendiri. Biasanya pernikahan berdasarkan hubungan bisnis semata, demi kekayaan keluarga.

Bersama randa dan dua orang sahabat Sultana, Nadia dan Wafa, sultana membentuk gank yang berusaha mendobrak tradisi perbudakan wanita. Nadia adalah anak pengusaha kaya, sama kaya dengan pangeran-pangeran Arab. Serta waffa, anak seorang muttawar.rupanya Nadia dan Waffa lebih liar daripada apa yang dipikrkan Sultana. Nadia dan Waffa mencari pecari cinta dan berani melakukan apa saja selain penetrasi dengan pria-pria bule mereka. Nadia dan Wafa hanya menjaga agar cadar mereka tidak terbuka, tak peduli mereka bisa telanjang didepan tean kencannya. Akibat kenekatan itu, Nadia dihukum dengan diikat pergelangan tangannya dan dibelenggu besi, dan ditenggelamkan di kolam renang milik keluarga. Sementara Wafa, lebih beruntung, setelah dnikahkan dia dipindahkan ke suatu desa terpencil.

Sultana marah dan kecewa. Kelakuan sahabatnya dipandang sebagai bentuk pemberontakan atas masa depan yang suram. Sultana berpikir, bahwa mencintai dan menyerahkan kehormatan kepada lelaki yang bukan suaminya, sekalipun itu dosa, dan zina, tepap leih baik daripada direnggut oleh laki-laki tua beristeri lima.

Tiba saat sultana menikah dengan pria bernama Karim. Sultana yang keras hati menolak dijodohka dengan karim kecuali dia dapat melihat sosok pria itu terlebih dahulu. Dan sang ayah setuju. Diluar kebiasan tradisi Arab, Sultana dapat melihat calon suaminy dulu. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dialami ibu dan kakak-kakak mereka. Pada umumnya wanita Arab menikah dalam tekanan akan kematian dan ketidakbahagiaan, akibat dijodohkan dengan pria yang lebih tua. Tetapi Sultana setuju dengan calon suami yang tampan dan terpelajar. Delapan tahun yang bahagia, di suatu hari Sultana mendapati Suaminya ingin menikah lagi. Sultana menganggap tidak ada Pria Arab yang melihat wanita sebagai makhluk mulia. Mereka hanya melihat wanita sebagai budak seks dan pemberi keturunan. Sudah menikah dan beristri empat pun, seorang Pria Arab, terutama keturunan bangsawan masih boleh tidur dengan gindik dan pelacur.

Buku ini syarat akan diskriminasi. Dimana semua kejadian buruk yang dialami wanita adalah buah dari kberpihakan hukum dan pemikiran jahilliyah. Agama Islam sangat mengagungkan wanita, dimana Rasulullah menyebutkan kata"Ibu" sebanyak tiga kali saat ditanya siapa oramh yang pertama wajib dihormati. Rasulullah menunjukkan kecintaanya yang besar kepada Aisya dan tidak menikah selama Aisyah masih hidup. Kendati Aisyah hanya melahirkan anak perempuan, salah satunya adalah Ahlul Bait, Fatimmah Azzahra yang menikah dengan ali bin Abi Thallib anak dari paman Rasulullah.

Menurut pandangan Sultana, pria Arab memutarbalikkan hukum Al Quran dan bertindak seolah mengagungkannya. Sungguh ironis kenyatan ini terjadi di negara dimana Agama mulia diturunkan. Namun sesungguhnya, dimanapun kita berada,tindakan diskriminatif tetap terjadi. Tak ada batasan mutlak dimana kejadian itu bisa dan layak terjadi.

Inti dari buku ini adalah:

  1. Mengenai pandangan seorang Putri Kerajaan terhadap kehidupan diskrminatif bagi wanita di Arab.
  2. Kenyataan bahwa semua pangeran Arab hidup dari gaji kekayaan usaha minyak keluarga (Saya rasa hanya Osama Bin laden Pangeran Arab saja yang hidup bersahaja dan memerangi Tirani.)
  3. Pandangan Sultana bahwa semua Pria di Arab saudi haus seks, kekuasaan, perbudakan, dan memutarbalikkan hukum agama. Adat untuk menikah lebih dari 1 untukyang mampu.
  4. Keharusan wanita untuk menjaga keperawanannya, karena ada keharusan malam pengantin wanita mengeluarkan daah keperawanannya kepada suaminya.

Harta menjadikan bangsa Arab tak lagi menghargai hidup, dan selalu mencari kekosongan dengan enikah dan menumpuk harta

Resensi Novel “Laskar Pelangi”



Identitas Buku

Judul : Laskar Pelangi

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Benteng, Yogyakarta

Tahun Terbit : 2008

Tebal : XVIII + 534 Halaman 20,5


Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam "Laskar Pelangi": Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya.

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi.

Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pelangi itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar. Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu "Padamu Negeri" pada akhir jam pelajaran.

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi. Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival 17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib? Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap. Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya jawaban, " jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan…." Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah, kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Keunggulan Novel

Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah, kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

  1. Dapat menjadi cerminan pembaca agar dapat mengambil contoh betapa pentingnya pendidikan untuk meraih cita-cita
  2. Dapat memicu pembaca agar tetap semangat dan berjuang untuk meraih prestasi guna memajukan bangsa agar lebih baik.
  3. Terdapat nilai yang patut untuk dicontoh agar menjadi lebih baik dari yang sebelumnya
  4. Memberitahukan kepada kita bahwa guru benar-benar seorang pahlawan yang tanpa tanda jasa demi mencerdaskan anak didiknya dan selalu memberikan yang terbaik.

Kelemahan Novel

Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita. Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik, menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur "Aku" secara tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan karena sebuah goresan yang tidak perlu.

  1. Kata-kata yang digunakan kurang menunjukan bahwa tokoh adalah seorang anak, yang seharusnya tiak melakukan kewajibannya untuk membantu pamannya.
  2. Mengapa tokoh ikal di dalam cerita tidak berkesinambungan dengan isi novel yang lainnya. Seharusnya bisa digunakan nama yang lainnya.

Unsur Intrinsik

  1. Tema

    Menceritakan tentang seorang anak didik yang ingin meraih prestasi dan ingin merubah masa depan agar bisa lebih baik dengan sekolah seadanya dan tetap berjuang

  2. Latar atau Seting
  • Tempat, kampung dari suatu komunitas melayu yang sangat miskin di Belitung.
  • Situasi sebuah semangat juang dua anak didik yang penuh harapan agar dapat memperbaiki masa depannya agar lebih baik.
  1. Sudut pandang

    Sudut pandang sebagai peran utama, yaitu Lintang yang harus berhenti sekolah karena ia harus membantu keluarganya.

  2. Penokohan
  • Bp. Harvan Efendi Noor : Penyayang, dan bertanggung jawab kepada keluarga
  • Ibu muslimah Hasfar, penyayang, bertangung jawab, dan menyayangi dengan sepnuh hati.
  • Ikal, semangat, tekun, tegar, tidak mudah menyerah
  • Lintang, semangat, tekun, tegar, tidak mudah menyerah dan bertanggungjawab terhadap keluarga
  • Sahara, semangat, tekun, tegar, tidak mudah menyerah
  1. Konflik
  • Walau berada di kampong dan miskin, kedua anak didik tetap semangat demi memperbaiki masa depan agar lebih baik.
  • Lintang seorang siswa yang cerdas dan mempunya potensi yang cukup tinggi, harus berhenti sekolahnya akrena harus membantu keluarganya.
  • Sebuah sekolah yang tak layak dan kurang fasilitas harus digusur, namun berkat jasa seorang anak idiot yang sepanjang masa sekolah tak pernah mendapatkan rapor, sekolah dapat diselamatkan.
  1. Pesan & Amanat
  • Kita sebagai genersi penerus harus berjuang meraih cita-cita demi kemajuan bangsa
  • Kita harus mempunyai tekad yang kuat tidak mudah menyerah dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun demi tercapainya tujuan agar dapat lebih baik dan mebanggakan.

Unsur Ekstrinsik

Andrea Hirata, lahir di Belitung. Meski studi mayornya adalah Ekonomi, ia sangat menggemari Sains, Fisika, kimia, biologi dan tentu saja Sastra. Setelah novel-novel best seller "Laskar Pelangi" dan "Sang Pemimpi" Andrea lebih mengidentifikasikan dirinya menjadi Akademisi dan Backpacker.

Sekarang ia tengah mengejar mimpinya untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan Ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapatkan beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di University de Paris., Sorborne, Perancis. Dan di Sheffield Hallam University UK. Tesis Andrea di bidang Ekonomi Telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua Universitas tersebut dan lulus dengan CumLaude. Tesis itu telah diadaptasi ke Bahsa Indonesia dan merupakan buku Ekonomi Telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar dan menjadi referensi ilmiah. Saat ini Andrea masih bekerja di kantor pusat PT. Telkom dan Tinggal di Bandung. Untuk dapat berkomunikasi dengan Andrea dapat melalui www.sastrabelitong.multiply.com